Sabtu, 23 Mei 2009

MEMAJUKAN DIRI (Bag.1)

Dalam kurun waktu 17 tahun di dunia broadcast, saya sempat mengalami “kevacuuman” dari dunia radio selama 2,5 tahun, sebelum akhirnya bergabung di radio yang sekarang , radio Kencana FM.

Sebetulnya tidak tepat kalau dikatakan benar-benar vacuum. Karena toh hampir tiap hari, sejak saya resign dari Radio Makobu FM bulan Juni 2004 sampai awal tahun 2007, saya tetap disibukkan dengan aktivitas mengajar di salah satu lembaga kursus penyiar radio di kota Malang. Disamping itu, keberminatan (kepedulian) terhadap dunia radio membuat saya tak pernah bisa lepas dari kegiatan mendengar berbagai radio yang ada di kota Malang maupun di kota-kota yang kebetulan saya singgahi saat bepergian. Aktivitas ini sudah yang saya lakukan sejak masih duduk di bangku SD !

Tapi, mengapa tiba-tiba waktu itu saya berani memutuskan untuk meninggalkan dunia radio yang sudah mendarah daging sejak usia belasan tahun ini ?

Banyak sekali factor yang melatar belakangi keputusan itu. Salah satu diantaranya adalah munculnya perbedaan prinsip yang tidak memungkinkan bagi saya untuk meneruskan kerjasama dengan radio bersangkutan. Saya tidak perlu menyebutkan perbedaan prinsip macam apa itu, tetapi itu menyangkut berbagai hal.

Memang, perbedaan itu wajar dan sah-sah saja. Tapi, kalau perbedaan itu membuat kita merasa tidak nyaman, sementara berbagai cara yang ditempuh untuk menyatukan perbedaan itu tak berhasil dilakukan, tentu harus ada sikap yang dipilih.

Saat itu saya memilih sikap untuk resign dari radio yang sudah 7 tahun menjadi bagian dari mimpi dan hidup saya.

Menyesal ?

Tidak.

Karena ada satu lagi alasan yang membuat saya berbahagia dengan keputusan itu.

Apakah itu ?

Mimpi saya untuk menjadi seorang entrepreneur bakal menjadi kenyataan.

Barangkali inilah mimpi ke dua saya setelah mimpi pertama menjadi kenyataan.

Mimpi atau cita-cita pertama saya sejak SMU adalah menjadi penyiar radio. Mimpi itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. Dari hari ke hari, tahun ke tahun mimpi itu semakin menguat. Tak sedikitpun mimpi itu bergeser dari pikiran saya. Saya begitu merindukan sekali saat-saat mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Dan semuanya akhirnya mulai terwujud justru setelah saya lulus kuliah di tahun 1992.

Seiring dengan perjalanan waktu, 5 tahun setelah mimpi pertama saya terwujud, tiba-tiba “virus” entrepreneurship menyerang otak dan seluruh aliran darah saya. Keinginan untuk menjadi “orang bebas” kian lama kian menguat. Berbagai buku dan seminar tentang wirausaha menjadi makanan wajib bagi saya. Namun itu tak cukup kuat untuk membuat saya mengambil keputusan untuk banting setir menjadi wirausahawan. Saya masih tetap menikmati posisi sebagai penyiar di radio.

Baru setelah memasuki tahun ke 12, keinginan untuk menjadi wirausahawan kembali menyeruak. Perbedaan prinsip dan situasi kerja yang tidak mendukung untuk tetap bertahan, membuat keputusan harus diambil.

Tanggal 1 Juni 2004 saya resmi sudah tidak tercatat sebagai Program Director dan penyiar di radio Makobu FM, meninggalkan semua kenangan dan mimpi indah yang sudah terajut selama 7 tahun.

Seperti kata Mario Teguh : saya sudah resmi “memajukan diri” - bukan mengundurkan diri-, untuk mengejar mimpi yang baru, tentunya.

Senin, 26 Januari 2009

PENYIAR RADIO, HOBBY ATAU PROFESI ?

Tulisan ini sebenarnya adalah pendapat yang pernah saya tulis di Facebook, di Grup Forum Diskusi Radio (FDR) Indonesia, yang berangkat dari tulisan mas Harley Prayudha pertengahan November tahun lalu. Topik yang diangkat : Kerja di Radio Masih Dianggap Hobby ? Mengapa ini perlu saya tuliskan kembali di sini ? Karena ternyata tidak sedikit diantara para praktisi atau pelaku di dunia radio siaran yang masih punya anggapan berbau pesimistis mengenai pekerjaan mulia ini. Berikut ini tulisan saya :

Sebuah profesi yang dilakukan karena hobby seharusnya akan menghasilkan output yang berbeda dibandingkan dengan profesi yang dilakukan karena terpaksa atau kepepet. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan kecintaan penuh, totalitas dan tanpa pamrih akan memberikan sebuah kualitas yang jauh berbeda dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan karena mengejar kebutuhan hidup alias sekedar "mencari uang".

Masalah sebenarnya bukanlah pada pernyataan apakah ini hobby atau bukan hobby.

Masalahnya adalah : apakah si penyiar, pengelola radio, termasuk si pemilik radio, dan pemasang iklan menyadari atau mau menyadari bahwa RADIO ADALAH SEBUAH INDUSTRI ?

Kalau hal ini tidak dipahami oleh masing-masing pihak, sampai kapanpun gaji penyiar akan dihargai rendah oleh pengelola atau pemilik radio. Mengapa bisa begitu ? Ya, karena selama menjalankan pekerjaannya si penyiar tidak menunjukkan kualitasnya sebagai seorang penyiar yang layak dibayar tinggi. Buat apa dibayar tinggi, siarannya begitu-begitu saja. Cuma sekedar suka-suka si penyiar. Toh cuma hobby, begitu pendapat si penyiar. Nanti kalau sudah lulus atau ada tawaran pekerjaan di perusahaan lain, yang bukan radio tentunya, ya ucapkan selamat tinggal radio. Ngapain dibela-belain. Penyiar kan hanya batu loncatan.

Yang kedua, kalau pengelola atau pemilik radio tidak menganggap radio sebagai sebuah INDUSTRI yang "BISA MENJADI BESAR' dan "HARUS MENJADI BESAR" tentunya pemasang iklan juga akan bisa merasakan hal yang sama. Ahh, radio itu enggak niat, enggak bonafide. Buktinya, kantornya aja kayak begitu, studionya kecil, dan lain-lain. Sehingga salah satu dampaknya adalah harga iklan sulit untuk menjadi tinggi.Mana mau klient membayar mahal untuk perusahaan yang dianggap enggak bonafide.

Yang ketiga, pemasang iklan yang tidak mau menyadari bahwa radio adalah sebuah industri , tentunya dengan seenaknya sendiri akan menawar harga iklan serendah-rendahnya. Yang penting radio mau kasih harga murah, dia pasti pasang.

Ibaratnya lingkaran setan. Salah satu tidak menyadari fungsinya sebagai sebuah industri, akan berpengaruh pada yang lainnya.

Sebagai layaknya sebuah industri, tidak peduli di kota besar ataupun kecil, berprofesi di radio bisa menjadi sangat menjanjikan dan bisa tidak menjanjikan. Seperti juga bekerja di bank, bisa menjanjikan bisa juga tidak menjanjikan. Tinggal tergantung di Bank mana, Bank yang sehat atau bank yang tidak sehat ?

Jadi, bersyukurlah anda yang berprofesi sebagai penyiar karena "benar-benar hobby" bukan "sok hobby". Maksimalkan kemampuan anda dan kualitas anda akan terbaca oleh atasan anda atau atasan orang lain.

Dan bersyukurlah para pengelola atau pemilik radio yang punya penyiar yang bekerja karena hobby dan kecintaan penuh, karena itulah aset anda yang termahal.

Sabtu, 08 November 2008

NAIK KERETA API ..tut...tut..tuuut

(Fiuuuh…udah lama juga ya gak nulis. Kayaknya butuh tekad yang kuat untuk konsisten menulis di blog ini. Kali ini saya gak pingin nulis tentang radio atau broadcast, tapi tentang beberapa hal yang sudah beberapa minggu ini menjadi unek-unek di hati dan pingin di share aja di sini)
(Sumber foto di atas : http://permanaprasetya.multiply.com/photos/album/13/Kereta_Api_dan_Lokomotif#3

Pertengahan bulan yang lalu (Oktober) saya sempat memanfaatkan jasa transportasi kereta api Gajayana dari Malang menuju Jakarta. Ada beberapa hal yang berbeda dibanding terakhir kali saya menggunakan kereta api ini 3 bulan yang lalu.

Yang pertama, jadwal keberangkatan ternyata sudah berubah. Kalau biasanya KA Gajayana berangkat dari stasiun Kota Baru Malang pukul 15.40, saat ini jadwal dimundurkan menjadi pukul 16.30.

Yang kedua, gerbong yang saya tumpangi ternyata masih baru. Warna interiornya lebih cerah, baunya wangi dan bersih.

Selain itu di bawah tempat meletakkan minuman sekarang ditambahi dengan fasilitas stop kontak yang bisa dipakai untuk mencharge baterei HP atau Laptop.
Kursi penumpangpun masih berfungsi maksimal. Empuk dan nyaman. Tombol untuk merebahkan sandaran kursi masih bekerja dengan maksimal. Berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya, dimana kursi penumpang biasannya sudah enggak nyaman untuk diduduki dan seringkali diketemukan kerusakan pada alat pengaturan sandaran. Sehingga sandaran tidak bisa difungsikan secara maksimal.
Kebetulan saya mendapat kursi di baris ke 3 dekat pintu gerbong. Biasanya posisi ini paling enggak enak, karena seringkali pintu gerbongnya rusak sehingga tidak bisa membuka dan menutup secara otomatis. Parahnya setiap orang yang melewati pintu itu, baik itu crew KA atau penumpang lain, malas untuk menutup kembali pintu yang sudah terbuka. Hal ini menyebabkan polusi suara yang berasal dari gandengan KA dan bau pesing dari WC tercium sampai ke penumpang yang duduk dekat pintu.

Tapi kali ini berbeda. Karena masih baru, pintu masih bisa berfungsi secara otomoatis. Untuk membuka dan menutup pintu cukup menekan tombol yang ada di dekat pintu dan pintu akan membuka dan menutup dengan sendirinya.

Saya mencoba untuk menengok ke fasilitas WC. Memasuki WC gerbong KA Gajayana, yang biasanya sempit, kotor dan berbau pesing, kali ini ternyata berbeda dari biasanya. WCnya bersih, wangi dan terasa lebih lega. Air juga mengalir dengan lancar. Hmmm, boleh juga.
Ketika kembali ke tempat duduk, saya baru memperhatikan ternyata TV yang ada di tiap gerbong menggunakan TV layar datar. Seingat saya dulu hanya TV biasa. Sayangnya, ketika kereta berjalan suara TV sudah tidak bisa terdengar lagi karena volumenya terlalu kecil. Padahal yang ditampilkan di TV adalah video klip musik yang tentunya percuma kalau tidak diperdengarkan suaranya.

Ah, bagaimanapun kondisi ini sudah jauh lebih bagus daripada beberapa bulan silam.

Tapi, sampai kapan ya bisa bertahan ?

Sabtu, 04 Oktober 2008

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

Untuk seluruh pembaca blog ini, saya mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

TAQABBALALLOHU MINNA WA MINKUM

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

MINNAL AIDZIN WAL FAIZIN.

Selasa, 02 September 2008

PENYIAR YANG TIDAK PEKA

Sebagai orang radio mestinya kita punya kepekaan saat memilih materi yang pantas untuk diangkat menjadi tema obrolan di udara.

Hari Minggu sore kemarin (31/8), beberapa jam menjelang bulan suci Ramadhan, sebuah stasiun radio di Malang mengangkat tema obrolan yang menurut saya kurang layak untuk disajikan sebagai sebuah materi siar.

Maksud si penyiar atau produser acara sebenarnya ingin memberikan materi obrolan yang tematik khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan, tapi yang terjadi malah justru sebaliknya.

Dua penyiar yang saat itu sedang bertugas malah menunjukkan kesan “tidak menghargai kesucian” ibadah yang merupakan kewajiban tiap muslim di seluruh dunia ini. Bahkan mereka mengundang pendengar untuk mengikuti “ide ngawur”nya dengan memberikan kesempatan bagi pendengar lain memberikan tambahan “ide ngawur” lainnya.

Tema yang diangkat adalah BAGAIMANA TRIK ATAU CARA ANDA BERPACARAN SELAMA BULAN PUASA.

Sepertinya tidak ada masalah dengan tema itu, karena memang pada kenyataannya tidak sedikit mereka yang berpacaran punya cara untuk tetap bisa menjalin hubungan selama bulan puasa, misalnya dengan ketemuan hanya di malam hari atau mengurangi frekwensi bertemu.

Yang menjadi masalah, tema ini tidak sekedar diangkat dan dipublikasikan oleh penyiar bersangkutan tetapi penyiar bahkan meminta pendengar untuk berbagi cerita atau lebih tepatnya berbagi tips atau trik cara mengakali ibadah puasa supaya pacaran bisa tetap jalan.

Lho, ibadah kok diakali ? Sudah begitu, disiarkan lagi !

Parahnya, pendengar diminta untuk berbagi “ilmu ngakali” ibadah puasa. Sepertinya Tuhan bisa ditipu ramai-ramai dengan berbagai trik yang disampaikan. Lebih parah lagi, penyiar menyampaikan materi itu sambil ketawa-ketiwi seolah-olah sudah mengangkat materi yang hebat yang enggak terpikirkan oleh radio lain.

Broer, ibadah itu memang ranah pribadi. Mau puasa kek, mau enggak puasa kek, mau pacaran pas lagi puasa kek, itu tanggung jawab pribadi masing-masing. Urusannya langsung sama Tuhan. Tapi sebagai penyiar (yang sedang bertugas), yang lagi didengar banyak orang dan punya tanggung jawab moral dengan semua yang disampaikan, kita enggak bisa seenaknya mengangkat sebuah tema.

Yang pertama harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri (atau tim kita) adalah apa sebenarnya tujuan tema itu disampaikan. Apakah untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik, memotivasi dan menginspirasi pendengar, main-main, iseng, atau lebih parah lagi jangan-jangan enggak ada tujuannya alias ngawur ?

Inilah yang saya bilang ketidakpekaan si penyiar (atau produser) radio itu.

Apakah mereka tidak berpikir tema yang diangkat itu berkesan menganggap main-main sebuah ibadah yang sangat dihormati bagi masyarakat Muslim ? Apakah mereka tidak berpikir dengan trik atau tips dari pendengar yang di onairkan itu justru menyebarluaskan “hal yang enggak bener” ke ranah public, yang bisa dianggap sebagai sebuah pembenaran bagi masyarakat awam ?

Penilaian saya terlalu berlebihan ?

Begini aja deh, anda yang beragama Islam pasti tau kalau ibadah puasa adalah salah satu bagian dari Rukun Islam, seperti halnya Syahadat, Sholat, Zakat, dan Haji.

Bagaimana kalau misalnya ada penyiar yang mengangkat tema begini :
BAGAIMANA TRIK ATAU CARA ANDA BERPACARAN SAAT TIBA WAKTU SHOLAT atau BAGAIMANA TRIK ATAU CARA ANDA BERPACARAN SAAT BERHAJI DI TANAH SUCI ?

Ngawur.

Selamat menjalankan ibadah puasa 1429H, mohon maaf lahir dan batin.

Selasa, 26 Agustus 2008

AWAL KETERTARIKAN DI RADIO

Kalau ditanya sejak kapan saya tertarik dengan dunia kepenyiaran, jawabannya bisa panjang, karena ada lebih dari satu peristiwa atau pengalaman yang terbagi dalam beberapa fase yang akhirnya menyatukan keinginan kuat itu.


Salah satunya adalah tatkala saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar di era tahun 1980-an. Di masa kecil saya, di samping harus menjalankan kewajiban belajar di sekolah, saya punya kewajiban yang rutin harus saya lakukan tiap hari, yaitu latihan Piano.

Yah, orangtua saya mengikutkan saya di kursus piano yang diajar oleh seorang guru Piano bernama Zuus Merry.
(Ki-ka : Zuus Merry, Gurunya Zuuz Merry dan saya yang paling "putih")


Beliau ini guru piano yang sangat sabar, tidak pernah marah sedikitpun (ke saya) walaupun saya termasuk murid yang “tidak terlalu pintar”…hehehe…(daripada dibilang murid yang malas).
Seingat saya, pertama kali saya belajar piano ke Zuus Merry adalah saat masih duduk di bangku kelas 1 atau 2 SD. Tiap hari Kamis jam 2 siang saya harus berangkat ke tempat kursus di rumah beliau di Jalan Cipto 16 Malang dengan menumpang becak langganan saya. Karena anginnya yang semilir di atas becak, ditambah lagi hari sudah siang (jam 2 siang, waktunya tidur siang buat anak-anak), seringkali dalam perjalanan saya ketiduran di becak. Untungnya enggak sampai “kejungkel”…hehehe.
(Tampak di latar belakang, Pak Min, tukang becak yang setia mengantar saya tiap Kamis siang)

Nah, di tempat kursus piano inilah sebenarnya perkenalan pertama kali saya dengan Studio Radio.

Selain dipakai sebagai tempat kursus piano, keluarga Zuus Merry juga memilik usaha stasiun penyiaran radio. Namanya radio Imannuel, yang merupakan cikal bakal dari radio Mas FM sekarang. Waktu itu gelombangnya masih di AM.

Nah, seringkali saat menunggu giliran les, saya suka mengintip ke dalam ruang siaran melihat aktivitas penyiar yang sedang bertugas. Tapi waktu itu saya belum memiliki ketertarikan samasekali dengan dunia kepenyiaran. Bahkan sampai bertahun-tahun saya kursus di Suuz Merry, radio bukan menjadi sesuatu yang terlalu menarik buat saya.

Tapi barangkali inilah fase awal dalam kehidupan saya yang tanpa saya sadari membekas di alam bawah sadar, yang akhirnya baru terwujud beberapa puluh tahun kemudian.

Lagi-lagi kekuatan The Law Of Attraction.

Senin, 25 Agustus 2008

KEKUATAN THE LAW OF ATTRACTION (Bag. 2)

Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya, keberadaan saya sebagai seorang penyiar yang sudah lebih dari 15 tahun ini adalah hasil terwujudnya Law of attraction saya kurang lebih 20 tahun yang silam. (Waaaow….sudah lama sekali ya ?). Cuma saya baru menyadarinya kalau itu adalah hasil dari Hukum Ketertarikan setelah membaca buku The Secret setahun silam.

Sebenarnya keinginan kuat saya untuk menjadi penyiar muncul ketika duduk di bangku SMA kelas 2. Kayaknya keren banget gitu lho profesi ini. Bisa muter lagu yang enak-enak, bisa ketemu artis, bahkan bisa menjadi seperti artis, soalnya penyiar radio di masa itu emang ngetop banget. Apalagi waktu itu belum ada TV swasta, sehingga untuk informasi dunia entertainment, khususnya musik, paling cepat ya dari siaran radio. Begitu juga untuk mendengarkan koleksi lagu-lagu mancanegara terbaru, juga dari radio.
Salah satu bahan pertimbangan saya memilih jurusan di perguruan tinggi selepas SMA juga saya kaitkan dengan keinginan saya menjadi penyiar radio. Maksudnya, jurusan yang saya pilih harus yang mendukung cita-cita saya itu.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada jurusan Bahasa Inggris. Alasannya sederhana, supaya bahasa Inggris saya bagus saat melamar jadi penyiar. Sesederhana itu.

Dan saya yakin pada waktu itu, dari sekian ratus atau ribu teman-teman lulusan SMA seangkatan saya, cuma saya satu-satunya yang bercita-cita menjadi penyiar radio. Gila, ya ?!

Tapi saya focus dengan keinginan itu. Saya enggak main-main. Kehidupan sehari-hari saya selama menjadi mahasiswa tidak lepas dari segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia radio.

Saya “belajar” secara autodidact dari penyiar-penyiar radio yang siarannya sedang saya dengarkan. Saat itu masih sulit mencari sekolah atau kursus broadcast, apalagi di Malang, padahal pengin banget lho. Jadi setiap ada kesempatan saya menyempatkan waktu untuk mendengarkan siaran radio yang menurut saya bagus.
Nah, di Malang waktu itu ada beberapa radio yang jadi pilihan saya untuk belajar. Ada KDS 8 (yang waktu itu masih bersegment anak muda), TT77 (jauh sebelum menjadi Tritara FM) dan Makobu FM (radio yang “sangat gaul” dan “Jakarta banget” di era awal 90-an).
Karena setiap kali liburan sekolah saya ke Jakarta, beberapa radio Jakarta juga menjadi referensi saya untuk belajar, diantaranya Radio Prambors (waah, ini dulu yang paling top), Radio Mustang (waktu itu masih berformat Rock abis), radio TRijaya FM dan lain-lain.-Mengenai radio-radio yang menjadi “penyemangat” saya menjadi penyiar akan saya bahas lebih lengkap di artikel berbeda-

Begitulah, cita-cita saya tidak pernah padam. Dan ternyata cita-cita yang “aneh” dan “enggak menjanjikan” bagi sebagian besar orang ini, menjadi kenyataan dalam kehidupan saya.

15 tahun yang lalu, di bulan November 1993, untuk pertama kalinya saya akhirnya diterima menjadi penyiar di radio KDS 8, setelah pernah ditolak lebih dari 4 kali di berbagai radio. 2 diantara penolakan itu dilakukan oleh radio KDS 8 yang akhirnya menerima saya menjadi penyiar. Asal tau aja, di masa itu menjadi suatu kebanggaan apabila bisa diterima di KDS 8. Dan saya pingin banget bisa diterima di sana.
(Sewaktu masih jadi penyiar Radio Kds 8 tahun 1994. Ki-ka: Zul, Darsono, lupa dan Agus Hadipraja)

The law of attraction saya akhirnya terwujud secara nyata.